Transformasi paradigma dalam pembangunan ekonomi yang berkelanjutan
Bencana banjir dan longsor kerap melanda beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa waktu ini. Kasus banjir dan longsor dalam beberapa tahun terakhir merupakan bukti nyata bahwa pembangunan ekonomi tidak mempertimbangkan aspek ekologis. Pembangunan yang selama ini diiming-imingkan dengan pertumbuhan angka ekonomi malah menjadi boomerang karena tidak setimpal dengan dampak yang dihasilkan yaitu kerusakan alam dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang melimpah,potensi
kekayaan alam indonesia luar biasa banyaknya,Dikutip dari kemendikbud
RI, Potensi SDA indonesia adalah Hutan, Lautan, Minyak Bumi, Gas alam dan Batu bara.
Namun, potensi sumber daya alam ini semata-mata hanya dinilai sebagai sumber
daya ekonomi yang siap untuk diekspoloitasi demi pertumbuhan ekonomi.Maka jika
persepsi ini sudah melekat dikepala kita, pertanyaannya adalah bagaimana cara
mengubah seluruh potensi ini agar dapat dijadikan menjadi nilai ekonomi yang
riil yang dapat dimanfaatkan untuk kemakruman suatu bangsa? Sesungguhnya
konsekuensinya adalah segala nilai dari kekayaan alam alam menjadi terabaikan
dan tidak diperhitungkan sama sekali.
Perlu adanya transfomasi paradigma pembangunan yaitu pembangunan yang tidak berkelanjutan menjadi pembangunan yang berkelanjutan. Selama ini terdapat banyak kesalahan yang sangat fundamental dalam paradigma pembangunan, kita selalu menganggap bahwa pembangunan hanya terfokus pada pertumbuhan ekonomi, seharusnya pembangunan juga menjangkau dimensi sosial-budaya dan ekologis.
Dampak dari kekeliruan paradigma
adalah, pertama, problem-problem serius soal lingkungan hidup seperti pencemaran
sungai,kebakaran hutan,kerusakan keanekaragaman hayati, perdagangan satwa liar,
Banjir dan longsi dan lainnya. Kedua, Konflik Sosial-budaya atas lahan mereka
yang digunakan sebagai penopang kehidupan di babat atas nama pembangunan
ekonomi, Perasaan diperlakukan secara tidak adil dan termajinalisasi. Dan ini
semua merupakan dampak negatif dari pembangunan ekonomi yang sangat amat mahal.
Green jobs atau pekerjaan hijau merupakan kampanye yang terus dicanangkan oleh berbagai Lembaga Swadaya Masyarakat di bidang lingkungan dalam upaya untuk meminimalisir dampak lingkungan,menurut international labour organization (ILO),Green jobs merupakan Transformasi dari ekonomi,perusahaan,tempat kerja dan tenaga kerja menjadi perkejaan yang layak,berkelanjutan dan rendah karbon. Prinsipnya terdapat 3 aspek dalam green jobs,pertama,Ramah lingkungan menjadi stand point dalam segala kegiatan green jobs, mulai dari aspek operasional hingga produksi. Slaah satunya adalah menciptakan produksi dengan meminimalisir penggunaan karbon yang dapat berdampak pada peningkatan suhu bumi.Kedua,Berwawasan lingkungan pada perkerja dalam etika profesionalisme,bagaimana ekosistem dalam lingkungan kerja yang mengedepankan kelestarian alam.Ketiga,Pekerjaan yang layak,sebenarnya di Indonesia pekerjaan hijau sudah ada sebelumnya seperti pelapak,pengelola air bersih, Petugas konstruksi.Namun pekerjaan tersebut memiliki resiko yang tinggi dan tidak sebanding dengan upah yang diterima,Hal ini yang masih menjadi upaya para aktivis lingkungan agar menaikan derajat mereka sehingga bukan saja bertujuan menciptakan ekosistem yang ramah lingkungan tetapi juga menaikan level profesi mereka menjadi kata layak dalam artian tidak ada ketimpangan antara upah yang diterima dengan resiko yang dijalani.
Prospek dalam Green jobs sudah cukup mulai dilirik di Indonesia,seperti Kontruksi Hijau atau Green Building dimana sebagain besar bahan baku dari konstruksi menggunakan material yang ramah lingkungan dan rendah karbon.Dalam bidang pertanian sudah mulai menjamur pertanian Organik,dimana dalam segala proses pembudidayaan menggunakan bahan-bahan organik seperti pupuk organik dan pestisida organik,outputnya adalah masyarakat menjadi lebih sehat dalam mengkonsumsi pangan dan aspek ekologis menjadi berkelanjutan. Dalam bidang Energi sudah banyak investasi yang beralih dari energi yang tidak terbaharukan menjadi sumber daya energi yang terbaharukan (Renewable Resources). Sumber daya tidak terbaharukan seperti batu bara diperkirakan akan menipis pada 2030,kalau kita hanya bergantung pada sektor ini maka kita tidak akan menjadi bangsa yang maju karena dampak negatif yang lebih besar dibandingkan keuntungan ekonomis dan lingkungan. Renewable resources memanfaatkan sumber daya yang dapat dipakai berulang-ulang dan tidak terbatas seperti energi matahari sebagai tenaga listrik dan Biogas sebagai bahan bakar kendaraan.
Kita berharap Green
Jobs memiliki potensi yang positif untuk mempertahankan dan meningkatkan
Indonesia yang lebih maju dan Asri pada tahun 2045,dimana saat itu bumi pertiwi
berusia 100 tahun dan semoga dengan adanya green
jobs dapat mematahkan mitos yang mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi dan
kelestarian lingkungan tidak mungkin dicapai bersamaan dan salah satu harus
dikorbankan. Perspektif kekayaan sumber daya alam yang melimpah bukan saja
sebagai sumber daya ekonomi semata tetapi memiliki value dalam rangka memakmurkan dan mensejahterakan bangsa indonesia.
Referensi
ILO.org.Lembar fakta tentang Pekerjaan yang layak
dan Ramah lingkungan (green jobs) di indonesia. https://www.ilo.org/wcmsp5/groups/public/---asia/---ro-bangkok/---ilo-jakarta/documents/publication/wcms_149950.pdf. Diakses pada 12 mei 2021
Keraf,A.Sonny,2010.Etika lingkungan hidup.Jakarta,Penerbit buku
Kompas


Komentar
Posting Komentar