Membentuk karakter generasi millenial suportif, cerdas dan unggul dengan strategi dakwah bil qolam melalui meida sosial dengan pendekatan kekinian dan komunikasi profetik
MEMBENTUK KARAKTER GENERASI
MILLENIAL SUPPORTIF,CERDAS DAN UNGGUL DENGAN STRATEGI DAKWAH BIL QOLAM MELALUI
MEDIA SOSIAL DENGAN PENDEKATAN KEKINIAN DAN KOMUNIKASI PROFETIK
Emil Rahim
Pengaruh globalisasi sangat berpengaruh terhadap tatanan kehidupan terutama dalam aspek sosial masyarakat di kalangan pemuda
Indonesia. Globalisasi telah menggiring manusia ke arah era modernitas dimana
teknologi terus-menerus dikembangkan sebagai media dalam penyebaran beragam
informasi. Pendidikan dasar akan menjadi penting dan berpengaruh terhadap pola
pikir generasi millenial dalam memfilter dampak modernitas. Salah satu dampak era
modernitas yang dirasakan oleh seluruh tatanan masyarakat adalah kehadiran
gadget sebagai sarana komunikasi jarak jauh dan pencaharian informasi.
Dewasa ini gadget seakan sudah beralih fungsi yang
tadinya hanya sebagai sarana komunikasi jarak jauh malah menjadi bagian dari
suatu kegiatan dalam keseharian masyarakat yang disengaja atau diniatkan untuk dijadikan
suatu aktivitas kehidupan. Aktivitas ini biasa disebut dengan “Bermain gadget”, didalam aktivitasnya terdiri dari berbagai macam kegiatan seperti
ber-media sosial,bermain games, streaming video ,dan lain-lain.
Data statistik didapatkan bahwa sebagian besar
pengguna gadget yang terhubung dengan jejaring sosial media adalah Generasi
millenial. Ironisnya peningkatan pengguna gadget tidak berbanding lurus
meningkatnya dengan budaya minat baca dan menulis pada generasi millenial. Menurut data UNESCO, perbandingan
minat literasi bangsa kita adalah 1:1000 artinya dari 1000 orang hanya terdapat
1 orang saja yang sadar akan pentingnya literasi1. data tersebut
menunjukan betapa misrisnya minat literasi khususnya dari kalangan millenial di
Indonesia. Rata-rata masyarakat indonesia berselancar di media sosial 7 jam 59
menit perhari berbanding terbalik dengan rata-rata waktu membaca masyarakat
indonesia hanya 2-4 jam bahkan kurang dalam sehari. Hal ini jauh dari harapan
UNDP yang memasang target setidaknya 6 jam atau lebih dalam sehari untuk membaca
buku2.
Menurut Pakar, Generasi millenial merupakan labeling
yang diberikan kepada pemuda kelahiran 1980-1990,atau pada awal 2000 dan
seterusnya3. Artinya generasi millenial pada tahun 2021 adalah
mereka yang berumur 20-41 Tahun. Era
modern telah menggiring kultur masyarakat yang sejatinya makhluk sosial menjadi
cenderung individualistis.
Seiring dengan perkembangan zaman yang modern ini
tampaknya terjadi kemerosotan pengetahuan pemuda millenial dalam mempelajari
aspek-aspek dalam islam. Penggunaan waktu terhadap aktivitas yang dilakukan dengan gadget seakan
tidak merepresentatifkan bahwa Ghirah
dalam mempelajari islam terutama sejarah islam akan meningkat. Hal ini perlu
diwaspadai karena bangsa yang melupakan sejarah akan menjadi bangsa yang
suram, begitu pula dengan pemuda yang melupakan sejarah maka dia akan kehilangan
pengetahuan akan identitas dan keteguhannya.
Daripada itu, aktivitas bermain gadget dapat
mempengaruhi psikologis dari para penggunanya. Sehari tanpa bermain gadget
seakan-akan berasa ada yang kurang. Separuh dari ekstensi diri kita seakan
sudah ditransformasikan ke dalam gadget. Fokus kita yang berlebihan terhadap
media sosial mengaburkan hati dan pikiran pada kepedulian sosial yang ada
disekitar kita.
Sebelum menetukan langkah strategis dalam
membangkitkan Ghirah kita perlu menganalisis
karakter dari generasi millenial,yaitu (1)millenial cenderung mudah bosan
terhadap barang yang dimilikinya (2) No gadget no life,(3) serba cepat dan
serba instan.hal ini menggerakan hati penulis untuk menuangkan pemikiran untuk
bagaimana membentuk dakwah yang efektif
Permasalahanya adalah bagaimana generasi millenial
dapat membentuk pola pikir dan membangkitkan Ghirah agar dapat membentuk karakter Generasi Millenial
supportif,Cerdas dan Unggul dengan strategi Dakwah bil qolam Melalui Media
Sosial dengan pendekatan kekinian dan komunikasi Profetik.
PEMBAHASAN
Pada zaman kekhalifahan Abu bakar, Orang-orang arab membangun tempat untuk membaca,menulis dan riset yang dinamakan dengan kuttab di madinah pada zaman khalifah abu bakkar4,pola pendidikan di zaman abu bakar kurang lebih sama dengan pola pendidikan di zaman Rasulullah,kemudian di zaman Umar bin khattab terdapat pengembangan,baik dari ilmu bahasa,menulis,dan pokok-pokok ilmu lainnya.
Pertanyaanya kenapa minat literasi kita
menurun,Apalagi minat dalam menulis?
Mari kita intermezo, sejak kecil sudah disuguhkan tayangan
yang tidak membangun kerangka pikiran konstruktif, padahal tahap perkembangan
kognitif anak yaitu usia 6-9 tahun,bukan berarti setelah masa tersebut tidak
bisa berkembang namun pola pikir dasar terbentuk pada masa itu. Disini peran
orangtua ataupun lingkungan sangat penting dalam membangun pola pikir sejak dini.
Menulis seharusnya menjadi salah satu kurikulum
untuk menaikan tingkat literasi bangsa.Menulis bukan lagi dikategorikan sebagai
bakat(nature),melainkan
Machinery.Alasan seperti Bakat,keturunan,lingkungan-sosial atau berdarah seni
bukan alasan utama.
Berdasarkan analisis karakterisasi pemuda millenial
terdapat 2 poin penting strategi yang
dapat menajdi solusi membentuk pola pikir dan membangkitkan Ghirah untuk mencintai islam ,yaitu:
1)
Pemahaman sejarah dengan kaitannya menyikapi fenomena peradaban
Sejarah pemikiran dan peradaban islam telah
mengalami proses evolusi yang signifikan seiring bertambahnya usia bumi.Jika
kita tarik kebelakang peradaban islam sesungguhnya telah mengedapankan ilmu agama
dan ilmu alam. Sebelum masa pra-islam di mekkah telah terjadi degradasi aqidah
dan moral yang luar biasa. Kerusakan moral saat itu sudah sangat parah.Terjadi
perampokan,Mabok-mabokan dan lain sebenarnya pada masyarakat arab pra-islam.
Permasalahan aqidah pun terjadi seperti menyembah berhala yang berdasarkan sentimen
kabilah.Setiap kabilah memiliki berhalanya masing-masing. Begitu buruk dan
gelapnya perilaku masyarakat saat itu hingga disebut sebagai zaman Jahiliyah.
Maka ALLAH SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk
membenahi perilaku mereka.Tugas utama Nabi Muhammad SAW yaitu makramal akhlak
bangsa arab dan menyebarkan agama islam rahmatan lil alamin. Dalam proses
dakwahnya tidak luput juga tradisi tulis menulis sedang berkembang, para
sahabat yang memiliki kemampuan untuk menulis diminta oleh Rasulullah untuk menulis
wahyu yang diterima dari ALLAH SWT. Kendati sarana untuk kegiatan tulis menulis
terbatas.Namun para sahabat tetap berusaha untuk mampu melakukannya.
Masa pertengahan islam mulai banyak ilmuwan islam
yang muncul seperti ibnu sina yang menulis karya fenomenal yaitu Qanun Fi
Thib,yang diterjemahkan oleh barat menjadi canon.Karena karya-karyanya maka
Ibnu sina diberikan gelar bapak kedokteran. al-khawarizmi,seorang yang
menciptakan sistem perhitungan Al-Jabbar. Cikal bakal adanya teknologi yang ada
saat ini. al-Khawarizmi juga merupakan ketua proyek pemetaan dunia.Dan masih
banyak tokoh lainnya.
Berdasarkan sejarah islam yang telah dijelaskan
sebelumnya kita dapat memahami bahwa cendekiawan yang ada pada masa pertengahan
merupakan akumulasi dari kurikulum pendidikan yang dibentuk sejak zaman dakwah
Rasulullah SAW. Begitu pula dengan fenomena peradaban zaman ini yang
berkorelasi dengan kejadian-kejadian di masa lalu.
Namun,Daya literasi negara indonesia perlu adanya
suatu terobosan yang melingkupi poin-poin sejarah agar millenial dapat memahami
secara runtut peristiwa apa dan kapan.Maka diperlukan infografis sebagai
strategi dakwah bil qolam untuk memupuk kecintaan millenial terhadap
islam,selain itu infografis merupakan solusi untuk millenial yang serba cepat
dan instan.
2)
Gencarkan upaya
dakwah bil qolam melalui media sosial
Menulis merupakan suatu bagian dari komukasi dakwah
islam. Secara Bahasa disebut sebagai Dakwah bil Qolam. Mengacu pada arti qalam
berarti pena diidentikan istilah dakwah bil-kitabah, Qalam berarti pena,memiliki
konotasi lebih aktif karena sebagai alat,sedangkan kitabah berarti
tulisan,berkonotasi pasif karena tulisan merupakan sebuah produk dari pena5.
Generasi millenial erat kaitannya dengan media
sosial sebut saja instagram,facebook,Whatsapp atau Blog. Media ini dapat
menjadi wasilah bagi setiap orang
untuk mendapatkan informasi mengenai dakwah islam.sekarang hanya duduk santai
dan seperangkat gadget kita sudah mendapatkan informasi bebas dari
manapun.Justru inilah kesempatan emas untuk menyebarkan pesan kebaikan.
Representasi dari dakwah bil qolam tidak terpatok
pada satu metode saja,banyak millenial mulai dari Novel islami,Komik yang
mengandung unsur islami,pemenafaatan Instagram sebagai media untuk menyebarkan
gambar dan tulisan yang berisi kebaikan.beragam metode dapat dilakukan untuk
memupuk kecintaan millenial terhadap islam
Komunikasi profetik diperlukan dalam menyampaikan
kebaikan pada generasi millenial,setidaknya Menurut Kuntowijoyo semangat/etos
dapat terwakili oleh Humanisasi,Liberasi
dan Transendensi.Humanisasi6 merupakan upaya untuk mengkomunikasikan
bahwa kita perlu menghargai hak-hak kemanusiaan dalam rangka memanusiakan
manusia,Liberasi merupakan upaya untuk pembebasan dalam konteks memperoleh ilmu
seperti ilmu pengetahuan dan ilmu sosial yang mendominasi kehidupan,sedangkan
Transendensi yaitu sebagai sebuah upaya untuk mengikat tindakan Humanisasi dan
Liberasi kepada Hubungan Vertikal dengan
satu rujukan yang jelas yaitu iman kepada Allah subhanahu Ta’ala.
Pendekatan kekinian diperlukan untuk memahami
kondisi sosial-budaya,Lagam dan gaya bahasa untuk menyesuaikan penyampaian
terhadap generasi millenial. Penyampaian dakwah melalui millenial dapat melihat
trend apa yang sedang disukai oleh millenial zaman sekarang,sebagai contoh anak
muda sekarang menyukai komik atau poster yang berisi pesan kebaikan,selain
karena menarik juga konsep dalam penyampaian juga dapat diterima.Hal lain juga
berkaitan dengan psikologi Millenial bahwasanya inti pesan dakwah dapat
menyesuaikan dengan keresahan sehari-hari maka pesan tersebut akan lebih mudah
diterima bahkan hatinya akan tergerak untuk menyebarkan pesan tersebut melalui
media sosial.
Sayyidina Ali Alaihisalam berkata menulis merupakan
tali pengikat ilmu pengetahuan,banyak orang hidup bersama kita meskipun
jasadnya telah terkubur ratusan tahun silam.Menulis ilmu ibaratkan pemikiran
yang akan tetap kekal.
Bagi umat muslim sudah sebagai keharusan untuk
menyebarkan ilmunya atau minimal mendeskripsikan kondisi sosial-masyarakat yang
ada disekitarnya dalam rangka membentuk karakter yang rabbani serta menitihkan
perjalanan sebagai suatu momen sejarah yang akan dikenang dalam suatu momen
sejarah yang setitik demi setitik akan menghasilkan generasi emas.
Referensi
2https://www.undp.org/content/dam/indonesia/docs/MDG/Let%20Speak%20Out%20for%20MDGs%20-%20ID.pdf
4 Latif, A. (2017). SEJARAH PENDIDIKAN ISLAM
DARI ZAMAN ROSULULLOH SAMPAI ZAMAN KHULAFAURROSYIDIN DALAM RANGKA MENCERDASKAN
UMAT. Jurnal Ilmiah Hukum dan Keadilan, 4(2), 55-75.
5 Qadaruddin, M. (2018). Cetak Biru Mahir
Berdakwah: Mengubah Dakwah Biasa Menjadi Wah.
6 Maskur, M. (2012). Ilmu
Sosial Profetik Kuntowijoyo (Telaah atas Relasi Humanisasi, Liberasi dan
Transendensi) (Doctoral dissertation, Universitas Islam Negeri
Alauddin Makassar).
Komentar
Posting Komentar